Warisan Pengorbanan Sang Nabi




Tak bisa dibandingkan. Pengorbanan seorang Ibrahim tatkala perintah Khaliknya datang. Perintah yang demikian menggetarkan. Mengorbankan buah hati kesayangan, yang begitu dinanti setelah sekian lama dirindukan. Titah yang tak mudah, bagi orang kebanyakan. Dan Ibrahim memang bukan orang kebanyakan. Ia demikian spesial. Abu al anbiya, bapak para nabi, begitu gelar tersemat pada diri seorang Ibrahim. Dari benihnya lahir generasi unggul, penebar risalah Tauhid. Ismail, satu di antaranya.

Ismail, sang buah hati kesayangan. Tatkala perintah itu datang, dan lalu sang ayah menyampaikan langsung, pemandangan yang ada sungguh luar biasa. Tak ada secuil pun kesah, terlebih penolakan meluncur dari lisan sang buah hati. Yang ada justru sebaliknya. Ketaatan tanpa syarat seorang hamba, terhadap perintah Rabbnya, 

Maka “Ibrahim-Ismail” Abad Ini, sengaja kami ketengahkan di penerbitan tabloid Alhikmah edisi 98, September 2014 ini, bukan untuk menampilkan sosok padanan. Tentu tak bisa dibandingkan dengan manusia-manusia abad ini, lantaran risalah kenabian sudah terhenti sejak utusan terakhir datang, Rasulullah Muhammad SAW, menyempurnakan. Sekedar belajar, sembari berharap, Ibrah yang nyata dari sosok ayah-anak, utusan mulia, Ibrahim Ismail. Ibrah tentang pengorbanan yang tak lekang diterpa zaman. Tetap relevan, sebagai manifestasi penghambaan makhluk terhadap Khaliknya.



Sosok-sosok kekinian yang ditampilkan dalam Inspirasi Utama edisi ini, sebatas gambaran, bahwa di masa ketika kaum muslimin yang tengah dalam posisi terzalimi di pelbagai lini, masih ada di antaranya terselip pribadi-pribadi langka, yang berani melangkah, meski di tepian arus utama. Mereka yang  rela mengorbankan apa-apa yang dicinta: harta, tahta, bahkan jiwa, di jalan al haq, semata untuk menggapai ridhaNya. Boleh jadi ada sosok-sosok lain yang lebih menginspirasi, namun luput dari amatan kami. Paling tidak, ikhtiar observasi, diskusi dan proses lainnya di ruang redaksi tentu sudah melalui ragam pertimbangan, sehingga sampai pada apa yang ditampilkan. Penasaran siapa mereka? Silahkan nikmati lembar demi lembar sajian Inspirasi Utama Alhikmah edisi ini.

Pembaca, mendekati musim haji dan hari raya idul Adha, sebagian Jamaah Haji negeri ini sudah pergi meninggalkan tanah air, untuk menyempurnakan rukun iman yang kelima. Boleh jadi di antaranya adalah rekan, sahabat, kerabat dan handai taulan, bahkan orang tua kita sendiri. Doa pengharapan mari kita sama-sama panjatkan untuk kelancaran pelaksanaan ibadah haji , dan semoga Allah berkenan menganugerahkan pahala mabrur. Amiin.

Apa Kabar Kurban Di Kampung Mualaf Abun, Papua?




Bukan mudah menjadi seorang muslim di tanah Papua. Sebab masalah perbedaan keyakinan, tak jarang konflik sering terjadi. Seperti yang dialami Lukman Yenjauo, warga kampung Mualaf Abun, Kabupaten Sorong Papua.

Dahulu, Yenjauo adalah salah satu dari sekian ratus orang yang mempertahankan Islam tatkala saudara sekampungnya di Abun (kini Tambraw) ramai pindah agama. Ejekan, cacian, diskriminasi, intimidasi, ancaman, sampai pembunuhan gara-gara berbeda keyakinan masih sering terjadi, bahkan ia pernah diancam dengan sebilah golok dan senjata api agar keluar dari Islam.

Tak lama setelah itu, Yenjauo bersama sisa warga muslim Abun lainnya hijrah meninggalkan kampung halaman menuju sebuah kampung yang tidak ada namanya di Distrik Mariat, Sorong. Meninggalkan seluruh harta dan jabatan. Di kampung yang belum ada nama inilah Yenjauo muslim lainnya memulai babak baru kehidupannya.



Mereka kemudian menamai daerah tersebut dengan Kampung Mualaf Abun. Nama mualaf disematkan karena mereka diislamkan oleh para da’i dari keturunan kerajaan Tidore. Sedangkan Abun adalah marga asli mereka di Papua.

Sehari-hari warga Kampung Mualaf Abun ini bekerja di hutan, ada pula yang bekerja sebagai buruh kasar, penggali parit, buruh bangunan, penjaga sekolah. Kendati penghasilan tak menentu, dengan keyakinan kepada Allah Ta’ala, hidup mereka bahagia. Yang penting mereka tetap teguh dalam tauhid.

Keberadaan Green Kurban tahun lalu di daerah mereka menjadi pelipur lara, karena sungguh jarang mereka bisa menikmati daging kurban. Tapi tak hanya itu, ini juga menjadi syi’ar bagi mereka yang hampir jarang mendapat seruan dakwah. “Terima kasih Green Kurban!” kata Yenjauo.

Mari tunaikan ibadah kurban, dan galang kepedulian untuk mereka. Dengan bergabung di Green Kurban, insya Allah Anda berpartisipasi kurban untuk wilayah miskin, terpencil, wilayah konflik, rawan gizi, dan wilayah minus lainnya di negeri ini.

Klik: http://www.sinergifoundation.org/green-kurban/

Info lebih lanjut:
WA 081220667263
www.sinergifoundation.org

Patungan Yuk, Guru-Guru Ngaji Di Kampung Juga Ingin Berkurban!




Mereka, guru-guru mengaji di pelosok kampung, memiliki peran yang amat penting. Dari surau ke surau, mereka mengajari anak-anak membaca Al Qur’an. Bukankah sebaik-baik manusia adalah ia yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an?

Seperti Juhdi, seorang ustadz alias guru mengaji asal Kampung Baduyut (Cianten), nun jauh di Desa Ciwangi, Garut. Muridnya memang tak terlalu banyak, tapi ia tetap konsisten mengajari para murid agar tak hanya bisa membaca, namun juga berakhlak sebagaimana diajarkan dalam Al Quran. Ia bekerja keras mendidik mereka, walau bayarannya sebagai guru mengaji hanya ucapan terima kasih.

Ada sisi lain kehidupan Juhdi. Di luar kehidupannya sebagai guru mengaji, ia adalah pekerja keras yang menyambi sebagai buruh tani dengan penghasilan tak seberapa. Di masa muda Juhdi, ia juga pernah menjadi pedagang dari kampung ke kampung, kota ke kota. Juhdi tak akan pulang ke rumah sebelum jualannya belum laku.



Seiring usia Juhdi mulai menua, rupanya ia terkena penyakit hernia. Tentu ini menyedot biaya berobat yang banyak, padahal untuk menghidupi keluarga sehari-hari saja tertatih-tatih. Perjuangan hidup yang tidaklah mudah, namun tetap ia jalani dengan tetap tegar dan tawakkal pada-Nya. Hidup Juhdi mengajarkan kita untuk tetap teguh dan sabar dalam menjalani kehidupan, hidup yang pelik tidak menyurutkan semangat dan perjuangan Juhdi untuk menggapai ridha-Nya.

Kini, Idul Adha sebentar lagi akan tiba. Di tengah kehidupannya yang sulit, ia juga ingin melaksanakan ibadah kurban. Sekadar berbagi dengan para tetangga di Kampung Baduyut yang kondisi kehidupannya tak jauh dari Juhdi. Maklum, di pelosok kabupaten Garut itu, tak banyak orang mampu melaksanakan kurban. Sekadar makan daging saja sangat jarang.

“Saya ingin sekali dapat berkurban, sebab misi hidup saya adalah berbagi dengan sesama. Dan salah satunya bisa dilaksanakan melalui berkurban,” kata Juhdi.

Di pedalaman Indonesia lainnya, ada banyak guru mengaji, para da’i, hingga ustadz yang berjasa untuk lingkungan, yang bermimpi sama seperti Juhdi. Mereka juga ingin berkurban.

Patungan yuk, dan wujudkan mimpi mereka!
Klik: http://www.sinergifoundation.org/green-kurban

Info lebih lanjut:
WA 081220667263
www.sinergifoundation.org

‘Dari Zaman Jepang, Baru Sekarang Ada Kurban’




Itu kata Uci. Kami memanggilnya Abah Uci. Kakek itu berusia lebih dari 80 tahun, tepatnya tidak ada yang ingat. Tapi dia ingat, sejak zaman Jepang, ia sudah tinggal di atas bukit di sini, Desa Cikuluwung, yang dapat  disusur dengan berjalan kaki selama hampir satu jam dengan melewati tanjakan berundak-undak yang melelahkan!

Lokasi pendistribusian kali ini memang termasuk sangat terpencil. Tepatnya terletak di Kampung Lebak Leungsir, Desa Cikuluwung, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai kampung Lebak Leungsir saja, kami harus memasuki hutan dan jalanan yang berupa batu, dan berkelok-kelok.

“Astagfirullah..” saat ada turunan, sebelah kiri mobil adalah jurang. Sedikit terperosok saja, tidak tahu seperti apa nasib kami.

Kami pun masuk ke kawasan hutan di perbukitan. Jalanannya tidak bagus, tidak rata, penuh dengan tanah dan batu. Tanjakan masih harus dilewati berkilo-kilo meter lagi. Dengan susah payah, seluruh tim akhirnya tiba di desa Cikuwulung di puncak bukit. “Di sini karena dulu kita harus menghindari penjajahan Jepang,” kata Pak Uci, sesepuh desa.



“Baru dua minggu, jalan batu itu bisa dilewati motor, dulunya tidak bisa , hanya tanah,” tambah Pak Uci. Bahkan, kata Pak Uci, listrik saja baru masuk tiga tahun lalu, itu pun hasil patungan masyarakat.

“Di sini makan sehari-hari yang paling nasi, itu ditumbuk sendiri, ada ubi sama sayur-sayuran. Kambing nggak pernah. Ini pertama kali dari zaman Jepang ada yang kurban di sini, terima kasih,” lirih Pak Uci.

Dalam terik panas, 10 ekor kambing yang dibawa dengan berjalan kaki 1 jam ini akhirnya bisa dipotong. Takbir menggema di puncak bukit. “Allahu akbar..Allahu akbar..Allahu akbar..”

Idul Adha, dengan anjuran ibadah kurbannya, sudah di depan mata. Ibadah ini mengandung hikmah agar kita lebih dekat pada Sang Pencipta. Dan tentu ibadah ini juga mengajarkan umat Islam untuk memupuk rasa empati pada sesama, melatih diri menjadi pribadi peduli, serta menghindarkan dari sikap tamak.

Di pedalaman Indonesia, ada banyak lagi yang bernasib seperti warga Desa Cikuluwung. Mereka berada di daerah terpencil, jauh dari mana-mana, dan penghasilan mereka minim. Tertatih-tatih menghidupi sehari-hari, tak terpikir untuk melakukan kurban.

Mari tunaikan ibadah kurban, dan galang kepedulian untuk mereka. Dengan bergabung di Green Kurban, insya Allah Anda berpartisipasi kurban untuk wilayah miskin, terpencil, wilayah konflik, rawan gizi, dan wilayah minus lainnya di negeri ini.

“Pada setiap lembar bulu (hewan kurban) itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Yuk kurban! Klik di sini