Mengurai Makna Berkurban




Berbilang abad, Allah abadikan kisah Ibrahim dalam Kalam dan syariat-Nya, yaitu Haji dan ibadah kurban yang sesaat lagi, jutaan umat Islam berbondong-bondong menuju Mekah, melakukan ritual yang sempat dilakoni keluarga Kekasih Allah tersebut.

Pengorbanan Ibrahim dan Ismail akan ketaatan pada Allah berbuah pertolongan-Nya, dan juga kabar gembira. Banyak hal yang bisa kita  petik hikmahnya dan kita amalkan terkait pengorbanan Ismail dan Ibrahim, bahwa pengorbanan sesungguhnya mengorbankan apapun: harta, keluarga, hingga nyawa.

Kepada tim Green Kurban, Sekjen Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Barat, ustaz Roinul Balad sepenggal Agustus silam menjelaskan makna pengorbanan sesungguhnya, hal-hal yang bisa kita petik dari pengorbanan Ibrahim dan Ismail, juga pengorbanan sesungguhnya di masa kini seperti apa.

Qurban  itu berasal dari bahasa arab yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Secara bahasa, qurban berasal dari kata qorroba – yuqorribu – taqriiban yang artinya mendekatkan. Mendekatkan pada siapa? Tentu mendekatkan diri kepada Allah,” ungkap ustadz Roin.

Menurutnya, pelbagai macam hal yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah itulah yang disebut pengorbanan.”Ibadah qurban ini adalah cerminan bagi kita untuk terus menempa diri lebih dekat dengan Allah, kita harus mengorbankan segala yang kita miliki semata-mata untuk Allah, di jalan Allah,” tambahnya.



Menurut ustaz Roin, kisah keluarga Ibrahim merupakan bukti nyata apa yang disebut pengorbanan. “Nabi Ibrahim ini termasuk Rasul ulul Azmi, beliau dikenal sebagai Bapaknya Tauhid. Karena ketauhidan beliau sungguh kuat dan cobaan yang diterima begitu berat. Keshalehan anak-anaknya, tak terlepas dari upayanya untuk membentuk karakter yang bertauhid kepada anak-anaknya, termasuk Nabi Ismail,” ungkap ustadz Roin.

“Walaupun berat, tapi demi mendekatkan diri kepada Allah, Nabi Ibrahim menjalankannya. Ia tidak memilih dan memilah perintah, apa yang datang dari Allah, ia langsung mengerjakannya, termasuk perintah menyembelih putranya,” tambahnya.

Keteladanan dan pengorbanan Ismail pun terlihat dari jawabannya.”bila itu adalah perintah Allah, lakukan wahai Ayah, insha Allah dengan engkau melakukan itu, akan engkau dapati aku anakmu sebagai orang-orang yang sabar,” secara naluri kemanusiaan, ayah mana yang tega menyembelih putranya sendiri, tapi sekali lagi Nabi Ibrahim yakin akan perintah Allah itu tidak akan berbuah madharat tapi kebahagiaan,” tegas ustaz Roin.

Menurut ustaz Roin, Allah tahu kecintaan Nabi Ibrahim terhadap anaknya begitu besar, sehingga untuk memurnikan tauhid, kecintaan itu harus dikorbankan, semata-mata agar tiada illah selain Allah. Kejadian besar ini kemudian Allah abadikan untuk menjadi syariat bagi ummat Nabi Muhammad yang sekarang dikenal dengan Iedul qurban.

Al-Quran menceritakan dalam Q.S Al-Baqarah [2] : 124. “dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia…”

Menurut ustaz Roin, dari ayat tersebut jelas, segala ujian yang Allah berikan, semata-mata untuk menjadikan Nabi Ibrahim sebagai pemimpin, panutan ketauhidan seluruh umat manusia.

“Itu artinya, untuk membentuk pribadi bertauhid tidak bisa tidak harus ditempa dengan ujian. Dan pengorbanan adalah langkah untuk meraih pribadi yang bertauhid. Sehingga, tidak bisa tidak, untuk menjadi insan yang lebih dekat dengan Allah, pun harus mengorbankan apa-apa yang kita miliki, apa-apa yang menjadi kecintaan kita. Tidak semata berharap dalam ucap, tapi nihil perbuatan,” tegasnya.

Pengorbanan Terberat



Jika melihat pengorbanan Ibrahim semata-mata untuk memurnikan tauhid, maka apapun harus dikorbankan demi meraih ridho Ilahi. “Hal yang paling berat untuk dikorbankan manusia adalah jiwanya, jiwa itu paling berat. Kenapa Al Quran  memberikan satu gambaran ketika kita berjihad itu bi amwal (harta) dulu lalu jiwa. Karena tidak semua orang mampu untuk mengumpulkan keyakinan berkorban dengan jiwanya. Namun Allah berjanji, bagi sesiapapun yang berkorban atas nama Allah, di jalan Allah, baik harta maupun jiwanya, dia akan mendapatkan ganjaran yang begitu melimpah,” ungkap Ustaz Roin.

Untuk bisa seseorang hingga mengorbankan harta dan jiwanya, tentunya hal tersebut berproses dan tak mudah. Ada hal yang harus disiapkan agar pengorbanan tersebut berbuah keikhlasan. “Yang utama tentu saja ilmu…dan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami adalah makrifatullah, ilmu Tauhid mengenal Allah. Inilah dasar, inilah pondasi yang akan menggerakan kita melakukan segala perintah Allah. Ilmu tauhidnya tidak benar maka sulit untuk kita bisa ikhlas berkorban untuk Allah,” kata ustaz Roin.

Menurut ustaz Roin, dengan kita berjuang dan berkorban di jalan Allah, maka Allah akan meninggikan derajat kita. “Allah telah berjanji, barangsiapa yang berkorban di jalan Allah, dengan apa-apa yang ia miliki, hidupnya hidup mulia, meninggalnya, maka syahidlah ia. Dan ia akan dimasukan ke dalam Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya,” pungkasnya. []

Tim Liputan: Maharevin

Penulis: Rizki Lesus

Penyunting: HB Sungkaryo

Habil dan Qabil: Kurban Pertama Umat Manusia




“Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”

Alangkah tak adilnya sang ayah! Mendengar keputusan itu, wajah Qabil mendadak memerah, bola matanya menggelap tanda tak terima. Dengan rahang terkatup, hawa panas mengalir dari dengusan nafasnya. Sudah tak mampu lagi ia mengurai emosi. Ingin meledak rasanya!

Begini, bukankah ia saudara kembar Iqlima? Lalu, mengapa tiba-tiba ayahnya, Adam, memutuskan menikahkan Iqlima dengan Habil? Sungguh, meski sang ayah mengaku itu perintah Allah, baginya dialah yang paling berhak memiliki Iqlima! Qabil berkeras, tak mau mengalah pada Habil.

Bapak umat manusia itu termenung. Ia tahu alasan di balik kekeraskepalaan putra pertamanya itu. Iqlima memang jelita, parasnya elok. Sementara Labudza, saudara kembar Habil yang hendak dinikahkan dengan Qabil, berwajah tak menarik.

Namun, sekeras apapun Qabil menolak, Adam tak bisa menyalahi ketetapan-Nya. Adalah Sang Maha Kuasa, yang memerintahkannya untuk menikahkan anak-anak secara silang. Tidak ada satupun putranya yang ia perbolehkan menikahi saudari kembar yang terlahir bersama.



Adam tak tinggal diam, ia ingin menyerahkan perkara ini pada Sang Pencipta. Menggantungkan semua harap hanya pada-Nya. Sudah diputuskan, ia akan meminta kedua putranya itu mempersembahkan kurban. Siapa saja yang kurbannya diterima, dialah yang akan meminang Iqlima.

“Wahai anak-anakku, dekatkanlah diri kalian pada Allah, dan persembahkanlah kurban. Barangsiapa yang kurbannya diterima oleh-Nya, maka diperbolehkan menikahi Iqlima,” seru Adam kala itu.

Habil dan Qabil menyanggupi syarat itu. Habil, putra yang dikenal Adam sebagai seorang peternak yang berbudi pekerti luhur, menyiapkan gembala terbaiknya. Bukan agar dapat mempersunting saudari kembar kakaknya, namun semata sebagai bentuk ketakwaan dan khidmatnya pada Sang Maha Pengasih.

Saat waktu berkurban tiba, Habil datang dengan seekor kambing gemuk dan sehat. Lembut, menuntun gembalanya. Dengan takzim, ia meletakkan kurbannya di puncak bukit. Tak jauh darinya, sang kakak yang seorang petani, turut menyimpan hasil panennya.

Lain dengan adiknya, ia justru mempersembahkan satu ikat sayuran yang paling buruk dari hasil cocok tanamnya. Di satu sisi, ia tak ikhlas memberikan sayuran yang ditanamnya sendiri. Di sisi lain, dirinya diliputi rasa percaya diri, dialah yang akan menikahi Iqlima. Ia satu-satunya yang berhak melakukannya. Qabil merasa di atas angin.

Namun, Allah Maha Tahu segala isi hati hamba-Nya. Api menyambar kambing milik Habil, pertanda kurbannya diterima. Sedang sayuran milik Qabil, teronggok dibiarkan layu. Tak tersentuh api sedikitpun. Melihat hal itu, Qabil murka. Berapi-api, ia mendorong tubuh sang adik dengan kasar.

“Wahai Habil, aku akan membunuhmu supaya kau tidak bisa menikahi saudari kembarku!” ancam Qabil. Matanya nyalang terbakar amarah.

Habil tak merasa gentar. Jernih suaranya kala ia menjawab, “Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”



Sumpah serapah menyembur keluar dari mulut Qabil. Ia tak terima, marah, sekaligus iri akan keberhasilan sang adik ‘merayu’ Allah. Ancaman itu Qabil lontarkan berkali-kali. Pikirannya mendung, tertutup awan gelap kedengkian.

Usai ritual, sang ayah segera mengetahui hasil kurban yang diterima. Adam pun telah diberitahu, bahwa Habil yang akhirnya dapat meminang Iqlima. Dari kurban yang dipilih Allah itu, tahulah Adam bahwa Qabil tak diberkahi.

“Celakalah engkau, Qabil. Kurbanmu tak diterima!” kata Adam.

Putranya merengut. Tanpa mengendalikan nada suaranya, ia berkata tajam pada sang ayah, “Kurban Habil diterima karena engkau berdoa untuknya, dan tidak berdoa untukku,”

Ia kembali menghampiri Habil, mengancamnya untuk kesekian kali. Kemudian, putra pertama Adam itu berlalu dengan gusar.

***

Awalnya, ancaman pembunuhan itu serupa ungkapan keberangan saja. Namun suatu hari, kesempatan itu benar-benar datang. Sang ayah khawatir karena Habil tak kunjung pulang dari menggembala. Maka, Qabil pun diutus untuk mencari putra keduanya itu.

“Malam ini aku akan benar-benar membunuhnya,” gumam Qabil dengan penuh dendam.

Saat ia bertemu dengan adiknya, dengan terus terang Qabil berujar,”Kurbanmu diterima, sedang punyaku tidak. Aku akan membunuhmu,”

Jawaban putra emas Adam itu mengejutkan. “Sungguh, jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”

Padahal, Habil tahu, andai melawan, ia akan menang dari kakaknya. Ia begitu perkasa. Tubuhnya tegap, berlengan besar dengan otot-otot kekar menggantung. Namun, tidak. Ia tidak mau membalas niat buruk saudaranya dengan perbuatan serupa. Daripada kematian, ia jauh lebih takut pada Sang Pencipta.

“Aku ingin kau mengurungkan niatmu. Karena dengan membunuhku, maka dosamu akan bertambah banyak. Kamu akan menjadi penghuni neraka, dan itulah balasan bagi orang yang zalim,” tak jeri, ia menasihati kakaknya.



Mendengar perkataan Habil, semakin geram sajalah Qabil dibuatnya. Syetan telah membisiki sanubarinya, mendorong Qabil melaksanakan maksud yang terpendam itu. Lalu, ia mengambil batu besar. Sekuat tenaga, dihantamkannya batu itu ke kepala Habil. Duakk! Duakk! Duakk! Demikian kerasnya, hingga kepala Habil pecah.

Demikianlah, pembunuhan pertama umat manusia itu dilakukan. Syahdan, Qabil telah menerima ganjaran langsung atas dosa yang ia perbuat. Kakinya diikat kuat dengan tali temali hingga mencapai paha. Seiring dengan perputarannya, wajah Qabil dihadapkan pada terik matahari.

*Disarikan dari kitab “Kisah Para Nabi” karya Imam Ibnu Katsir

(Aghniya/Alhikmah)