Warisan Pengorbanan Sang Nabi




Tak bisa dibandingkan. Pengorbanan seorang Ibrahim tatkala perintah Khaliknya datang. Perintah yang demikian menggetarkan. Mengorbankan buah hati kesayangan, yang begitu dinanti setelah sekian lama dirindukan. Titah yang tak mudah, bagi orang kebanyakan. Dan Ibrahim memang bukan orang kebanyakan. Ia demikian spesial. Abu al anbiya, bapak para nabi, begitu gelar tersemat pada diri seorang Ibrahim. Dari benihnya lahir generasi unggul, penebar risalah Tauhid. Ismail, satu di antaranya.

Ismail, sang buah hati kesayangan. Tatkala perintah itu datang, dan lalu sang ayah menyampaikan langsung, pemandangan yang ada sungguh luar biasa. Tak ada secuil pun kesah, terlebih penolakan meluncur dari lisan sang buah hati. Yang ada justru sebaliknya. Ketaatan tanpa syarat seorang hamba, terhadap perintah Rabbnya, 

Maka “Ibrahim-Ismail” Abad Ini, sengaja kami ketengahkan di penerbitan tabloid Alhikmah edisi 98, September 2014 ini, bukan untuk menampilkan sosok padanan. Tentu tak bisa dibandingkan dengan manusia-manusia abad ini, lantaran risalah kenabian sudah terhenti sejak utusan terakhir datang, Rasulullah Muhammad SAW, menyempurnakan. Sekedar belajar, sembari berharap, Ibrah yang nyata dari sosok ayah-anak, utusan mulia, Ibrahim Ismail. Ibrah tentang pengorbanan yang tak lekang diterpa zaman. Tetap relevan, sebagai manifestasi penghambaan makhluk terhadap Khaliknya.



Sosok-sosok kekinian yang ditampilkan dalam Inspirasi Utama edisi ini, sebatas gambaran, bahwa di masa ketika kaum muslimin yang tengah dalam posisi terzalimi di pelbagai lini, masih ada di antaranya terselip pribadi-pribadi langka, yang berani melangkah, meski di tepian arus utama. Mereka yang  rela mengorbankan apa-apa yang dicinta: harta, tahta, bahkan jiwa, di jalan al haq, semata untuk menggapai ridhaNya. Boleh jadi ada sosok-sosok lain yang lebih menginspirasi, namun luput dari amatan kami. Paling tidak, ikhtiar observasi, diskusi dan proses lainnya di ruang redaksi tentu sudah melalui ragam pertimbangan, sehingga sampai pada apa yang ditampilkan. Penasaran siapa mereka? Silahkan nikmati lembar demi lembar sajian Inspirasi Utama Alhikmah edisi ini.

Pembaca, mendekati musim haji dan hari raya idul Adha, sebagian Jamaah Haji negeri ini sudah pergi meninggalkan tanah air, untuk menyempurnakan rukun iman yang kelima. Boleh jadi di antaranya adalah rekan, sahabat, kerabat dan handai taulan, bahkan orang tua kita sendiri. Doa pengharapan mari kita sama-sama panjatkan untuk kelancaran pelaksanaan ibadah haji , dan semoga Allah berkenan menganugerahkan pahala mabrur. Amiin.

Kreativitas Kurban Masa Kini




Tikar-tikar plastik lebar itu digelar di muka halaman masjid. Usai penyembelihan hewan kurban, semua orang bersiap dengan tugasnya. Ada yang bersiap dengan timbangan, memotong daging menjadi bagian yang sama besar, atau membungkusnya dengan kresek sebelum dibagikan. Sebagian kresek yang sudah siap, diantar ke rumah-rumah.

Sebagian pria, masih sibuk menguliti kurban sapi yang digantung. Sesekali, celoteh hangat mewarnai aktivitas di hari perayaan Iedul Adha itu. Di bagian belakang, ibu-ibu menyulap halaman menjadi dapur. Semua bergerak mengolah hasil kurban. Aneka hidangan disajikan, mulai dari bertusuk-tusuk sate, gulai, hingga rendang. Siap disantap bersama.



Aih, keindahan apakah ini, melihat begitu banyak masyarakat bahu membahu menggembirakan ibadah luhur Nabi Ibrahim ini?

Potret-potret bahagia itu kerap mewarnai Hari Raya Iedul Adha. Meleburkan keikhlasan, pengorbanan, silaturahim, dan saling berbagi menjadi satu. Barangkali kita tak pernah sadar, di sudut sana, masih ada Faqir yang tak setiap hari bisa mencecap daging. Bukankah upaya mendekatkan diri pada Allah itu akan semakin tergenapkan dengan semangat mengasihi sesama?

Namun, sekali lagi, di sudut-sudut lain bumi Allah ini, akan selalu ada orang yang tak mampu menjangkau kurban. Entah di wilayah konflik, miskin, terpencil, bahkan rawan gizi buruk.  Sekadar memiliki beras saja tak mampu, apalagi hewan hasil sembelihan? Keadaan ini menelurkan celetuk baru, “Andai kurban terkelola dengan baik, tentu akan bisa berdampak luas,”

Berangkat dari sini, kini kian banyak lembaga-lembaga sosial memberikan perhatian lebih. Kurban tak hanya berbicara mengenai spiritual dan sosial, namun lebih jauh menembus dimensi kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, bahkan lingkungan hidup. Semua berlomba memberikan maslahat yang lebih besar.

Namun, benarkah ibadah suci sejak peradaban manusia dimulai itu bisa menembus dimensi-dimensi baru? Pertanyaan itu terjawab setelah Alhikmah berkesempatan mewawancarai sejumlah lembaga sosial, yang concern memberikan perspektif baru dalam kurban diantaranya ada Sinergi Foundation  (SF) dengan Green Kurban, ACT dengan Global Qurban dan RZ dengan Super Qurbannya.



Ihwal  Global Qurban dari Aksi Cepat Tanggap (GQ-ACTyang mengkhitmadkan dirinya dalam hal kemanusiaan. Sebutlah konflik Suriah, Palestina, Yordania, Afrika Tengah, atau wilayah lain di Nusantara yang rawan bencana, sebagai tempat GQ menyalurkan kurbannya.

Presiden Global Qurban ACT, Ibnu Khajar meyakini, secara makna sosial, kurban harus terdistribusi merata. Tak hanya beredar di tengah perkotaan atau di kawasan aman tentram, namun juga harus didapatkan pula oleh saudara-saudara yang mengalami konflik, atau kekurangan pangan.

“Prioritas utama penerima kurban kami adalah penyandang krisis dan bencana kemanusiaan,” kata Ibnu Khajar kepada Alhikmah medio Juli lalu.

Ia melanjutkan, “Kurban adalah ‘bimbingan langit’, langsung dari Allah. Pasti implikasinya hebat bagi kehidupan. Maka jika ibadah kurban yang dilakukan sekali setahun ternyata tak memberikan maslahat yang dahsyat, maka ada yang salah dengan manajemen kita sebagai muslim,”

Ia menyadari problematika kemanusiaan tak akan pernah benar-benar berakhir. Sengkarut persoalan yang terus menerus hadir dalam kehidupan. Di belahan dunia manapun, kejahatan berimbas pada eksistensi utuh manusia akan selalu ada. Tapi sebab itulah, seseorang harus melihat peristiwa itu dengan sudut pandang yang positif.

“Jika melihat sisi positifnya, barangkali inilah kesempatan beramal sholeh, yang salah satunya melalui kurban,” cetusnya.

Hal berbeda disampaikan ketua Superqurban 2016 Rumah Zakat (RZ). Program kurban RZ itu mengetengahkan optimalisasi hasil kurban. Ia menuturkan, daging tak bisa bertahan lebih dari tiga hari. Hal ini, menurut Siti, akan menjadikan daging mubazir, sehingga tak ayal menjadikan esensi ibadahnya berkurang.

Siti menilai kurban sebagai aksi berbagi, juga berempati dalam jangkauan yang harus luas. Namun lebih jauh, kebermanfaatannya dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan begitu, hasil kurban dapat dikonsumsi di luar perayaan Iedul Adha.



Sebab itu, mengantisipasi busuknya daging sebelum distribusi, Superqurban mengolah hasil kurban tersebut menjadi kornet. Olahan daging ini dapat bertahan hingga tahun, sehingga penyalurannya ke wilayah-wilayah pelosok Nusantara akan lebih efektif.

“Rasulullah pernah bersabda, ‘Janganlah kalian menghabiskan daging udhhiyah hanya dalam waktu 3 hari’, yang menguatkan perlunya pengemasan kurban agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang,” tutur Siti.

Lebih mengerucut, Siti juga hendak mengedukasi masyarakat miskin di wilayah terpencil, tentang perlunya konsumsi protein hewani. Mereka yang tak bisa menyentuh daging setiap hari karena alasan ekonomi, pada akhirnya menerima manfaat dari kurban kornet. Olahan daging ini, ia nilai efektif sebagai sarana pembinaan gizi.

Upaya-upaya memaslahatkan umat itu seakan tak pernah surut. Bersama dengan dua lembaga sosial di atas, Sinergi Foundation (SF) pun ingin turut menjadikan ibadah kurban sebagai perwujudan kesholehan sosial. Bedanya, melalui program Green Kurban, SF berikhtiar menghijaukan bumi dan juga mengampnyekan gaya hidup hijau (green life).

CEO SF, Ima Rachmalia, menyadari isu lingkungan memang bukan perkara baru. Namun, tentu perlu disadari bahwa lingkungan sekitar tak lagi lestari. Lahan-lahan hijau masif bersalin rupa menjadi hutan-hutan beton, yang diklaim sebagai mahakarya peradaban manusia. Alam kian tergerus.

Konsepnya, dari satu hewan yang dikurbankan, turut ditanam pula satu pohon. Jenis tumbuhan yang ditanam ini adalah jenis pohon produktif, seperti nangka, sawo, jambu, durian, mangga, rambutan, dan jenis pohon buah lainnya. Ima menjelaskan, selain turut serta menghijaukan, pun diharapkan dapat berdampak pada peningkatan taraf ekonomi penerima manfaat, kelak setelah pohon itu mulai menghasilkan.

Kendati demikian, Ima paham dampaknya tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu baru akan terasa manfaatnya. Ia menegaskan, Green Kurban hanyalah bentuk ikhtiar kecil, yang diharapkan dapat menginspirasi gerakan kolektif yang lebih besar untuk menghijaukan alam raya.

“Lebih jauh, memaknai ibadah kurban sebagai manifestasi penghambaan kita, makhluk yang mengemban amanah, menjaga serta melestarikan bumi tercinta,” pungkas Ima. (Aghniya/Alhikmah)

Mengurai Makna Berkurban




Berbilang abad, Allah abadikan kisah Ibrahim dalam Kalam dan syariat-Nya, yaitu Haji dan ibadah kurban yang sesaat lagi, jutaan umat Islam berbondong-bondong menuju Mekah, melakukan ritual yang sempat dilakoni keluarga Kekasih Allah tersebut.

Pengorbanan Ibrahim dan Ismail akan ketaatan pada Allah berbuah pertolongan-Nya, dan juga kabar gembira. Banyak hal yang bisa kita  petik hikmahnya dan kita amalkan terkait pengorbanan Ismail dan Ibrahim, bahwa pengorbanan sesungguhnya mengorbankan apapun: harta, keluarga, hingga nyawa.

Kepada tim Green Kurban, Sekjen Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Barat, ustaz Roinul Balad sepenggal Agustus silam menjelaskan makna pengorbanan sesungguhnya, hal-hal yang bisa kita petik dari pengorbanan Ibrahim dan Ismail, juga pengorbanan sesungguhnya di masa kini seperti apa.

Qurban  itu berasal dari bahasa arab yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Secara bahasa, qurban berasal dari kata qorroba – yuqorribu – taqriiban yang artinya mendekatkan. Mendekatkan pada siapa? Tentu mendekatkan diri kepada Allah,” ungkap ustadz Roin.

Menurutnya, pelbagai macam hal yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah itulah yang disebut pengorbanan.”Ibadah qurban ini adalah cerminan bagi kita untuk terus menempa diri lebih dekat dengan Allah, kita harus mengorbankan segala yang kita miliki semata-mata untuk Allah, di jalan Allah,” tambahnya.



Menurut ustaz Roin, kisah keluarga Ibrahim merupakan bukti nyata apa yang disebut pengorbanan. “Nabi Ibrahim ini termasuk Rasul ulul Azmi, beliau dikenal sebagai Bapaknya Tauhid. Karena ketauhidan beliau sungguh kuat dan cobaan yang diterima begitu berat. Keshalehan anak-anaknya, tak terlepas dari upayanya untuk membentuk karakter yang bertauhid kepada anak-anaknya, termasuk Nabi Ismail,” ungkap ustadz Roin.

“Walaupun berat, tapi demi mendekatkan diri kepada Allah, Nabi Ibrahim menjalankannya. Ia tidak memilih dan memilah perintah, apa yang datang dari Allah, ia langsung mengerjakannya, termasuk perintah menyembelih putranya,” tambahnya.

Keteladanan dan pengorbanan Ismail pun terlihat dari jawabannya.”bila itu adalah perintah Allah, lakukan wahai Ayah, insha Allah dengan engkau melakukan itu, akan engkau dapati aku anakmu sebagai orang-orang yang sabar,” secara naluri kemanusiaan, ayah mana yang tega menyembelih putranya sendiri, tapi sekali lagi Nabi Ibrahim yakin akan perintah Allah itu tidak akan berbuah madharat tapi kebahagiaan,” tegas ustaz Roin.

Menurut ustaz Roin, Allah tahu kecintaan Nabi Ibrahim terhadap anaknya begitu besar, sehingga untuk memurnikan tauhid, kecintaan itu harus dikorbankan, semata-mata agar tiada illah selain Allah. Kejadian besar ini kemudian Allah abadikan untuk menjadi syariat bagi ummat Nabi Muhammad yang sekarang dikenal dengan Iedul qurban.

Al-Quran menceritakan dalam Q.S Al-Baqarah [2] : 124. “dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia…”

Menurut ustaz Roin, dari ayat tersebut jelas, segala ujian yang Allah berikan, semata-mata untuk menjadikan Nabi Ibrahim sebagai pemimpin, panutan ketauhidan seluruh umat manusia.

“Itu artinya, untuk membentuk pribadi bertauhid tidak bisa tidak harus ditempa dengan ujian. Dan pengorbanan adalah langkah untuk meraih pribadi yang bertauhid. Sehingga, tidak bisa tidak, untuk menjadi insan yang lebih dekat dengan Allah, pun harus mengorbankan apa-apa yang kita miliki, apa-apa yang menjadi kecintaan kita. Tidak semata berharap dalam ucap, tapi nihil perbuatan,” tegasnya.

Pengorbanan Terberat



Jika melihat pengorbanan Ibrahim semata-mata untuk memurnikan tauhid, maka apapun harus dikorbankan demi meraih ridho Ilahi. “Hal yang paling berat untuk dikorbankan manusia adalah jiwanya, jiwa itu paling berat. Kenapa Al Quran  memberikan satu gambaran ketika kita berjihad itu bi amwal (harta) dulu lalu jiwa. Karena tidak semua orang mampu untuk mengumpulkan keyakinan berkorban dengan jiwanya. Namun Allah berjanji, bagi sesiapapun yang berkorban atas nama Allah, di jalan Allah, baik harta maupun jiwanya, dia akan mendapatkan ganjaran yang begitu melimpah,” ungkap Ustaz Roin.

Untuk bisa seseorang hingga mengorbankan harta dan jiwanya, tentunya hal tersebut berproses dan tak mudah. Ada hal yang harus disiapkan agar pengorbanan tersebut berbuah keikhlasan. “Yang utama tentu saja ilmu…dan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami adalah makrifatullah, ilmu Tauhid mengenal Allah. Inilah dasar, inilah pondasi yang akan menggerakan kita melakukan segala perintah Allah. Ilmu tauhidnya tidak benar maka sulit untuk kita bisa ikhlas berkorban untuk Allah,” kata ustaz Roin.

Menurut ustaz Roin, dengan kita berjuang dan berkorban di jalan Allah, maka Allah akan meninggikan derajat kita. “Allah telah berjanji, barangsiapa yang berkorban di jalan Allah, dengan apa-apa yang ia miliki, hidupnya hidup mulia, meninggalnya, maka syahidlah ia. Dan ia akan dimasukan ke dalam Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya,” pungkasnya. []

Tim Liputan: Maharevin

Penulis: Rizki Lesus

Penyunting: HB Sungkaryo

Habil dan Qabil: Kurban Pertama Umat Manusia




“Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”

Alangkah tak adilnya sang ayah! Mendengar keputusan itu, wajah Qabil mendadak memerah, bola matanya menggelap tanda tak terima. Dengan rahang terkatup, hawa panas mengalir dari dengusan nafasnya. Sudah tak mampu lagi ia mengurai emosi. Ingin meledak rasanya!

Begini, bukankah ia saudara kembar Iqlima? Lalu, mengapa tiba-tiba ayahnya, Adam, memutuskan menikahkan Iqlima dengan Habil? Sungguh, meski sang ayah mengaku itu perintah Allah, baginya dialah yang paling berhak memiliki Iqlima! Qabil berkeras, tak mau mengalah pada Habil.

Bapak umat manusia itu termenung. Ia tahu alasan di balik kekeraskepalaan putra pertamanya itu. Iqlima memang jelita, parasnya elok. Sementara Labudza, saudara kembar Habil yang hendak dinikahkan dengan Qabil, berwajah tak menarik.

Namun, sekeras apapun Qabil menolak, Adam tak bisa menyalahi ketetapan-Nya. Adalah Sang Maha Kuasa, yang memerintahkannya untuk menikahkan anak-anak secara silang. Tidak ada satupun putranya yang ia perbolehkan menikahi saudari kembar yang terlahir bersama.



Adam tak tinggal diam, ia ingin menyerahkan perkara ini pada Sang Pencipta. Menggantungkan semua harap hanya pada-Nya. Sudah diputuskan, ia akan meminta kedua putranya itu mempersembahkan kurban. Siapa saja yang kurbannya diterima, dialah yang akan meminang Iqlima.

“Wahai anak-anakku, dekatkanlah diri kalian pada Allah, dan persembahkanlah kurban. Barangsiapa yang kurbannya diterima oleh-Nya, maka diperbolehkan menikahi Iqlima,” seru Adam kala itu.

Habil dan Qabil menyanggupi syarat itu. Habil, putra yang dikenal Adam sebagai seorang peternak yang berbudi pekerti luhur, menyiapkan gembala terbaiknya. Bukan agar dapat mempersunting saudari kembar kakaknya, namun semata sebagai bentuk ketakwaan dan khidmatnya pada Sang Maha Pengasih.

Saat waktu berkurban tiba, Habil datang dengan seekor kambing gemuk dan sehat. Lembut, menuntun gembalanya. Dengan takzim, ia meletakkan kurbannya di puncak bukit. Tak jauh darinya, sang kakak yang seorang petani, turut menyimpan hasil panennya.

Lain dengan adiknya, ia justru mempersembahkan satu ikat sayuran yang paling buruk dari hasil cocok tanamnya. Di satu sisi, ia tak ikhlas memberikan sayuran yang ditanamnya sendiri. Di sisi lain, dirinya diliputi rasa percaya diri, dialah yang akan menikahi Iqlima. Ia satu-satunya yang berhak melakukannya. Qabil merasa di atas angin.

Namun, Allah Maha Tahu segala isi hati hamba-Nya. Api menyambar kambing milik Habil, pertanda kurbannya diterima. Sedang sayuran milik Qabil, teronggok dibiarkan layu. Tak tersentuh api sedikitpun. Melihat hal itu, Qabil murka. Berapi-api, ia mendorong tubuh sang adik dengan kasar.

“Wahai Habil, aku akan membunuhmu supaya kau tidak bisa menikahi saudari kembarku!” ancam Qabil. Matanya nyalang terbakar amarah.

Habil tak merasa gentar. Jernih suaranya kala ia menjawab, “Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”



Sumpah serapah menyembur keluar dari mulut Qabil. Ia tak terima, marah, sekaligus iri akan keberhasilan sang adik ‘merayu’ Allah. Ancaman itu Qabil lontarkan berkali-kali. Pikirannya mendung, tertutup awan gelap kedengkian.

Usai ritual, sang ayah segera mengetahui hasil kurban yang diterima. Adam pun telah diberitahu, bahwa Habil yang akhirnya dapat meminang Iqlima. Dari kurban yang dipilih Allah itu, tahulah Adam bahwa Qabil tak diberkahi.

“Celakalah engkau, Qabil. Kurbanmu tak diterima!” kata Adam.

Putranya merengut. Tanpa mengendalikan nada suaranya, ia berkata tajam pada sang ayah, “Kurban Habil diterima karena engkau berdoa untuknya, dan tidak berdoa untukku,”

Ia kembali menghampiri Habil, mengancamnya untuk kesekian kali. Kemudian, putra pertama Adam itu berlalu dengan gusar.

***

Awalnya, ancaman pembunuhan itu serupa ungkapan keberangan saja. Namun suatu hari, kesempatan itu benar-benar datang. Sang ayah khawatir karena Habil tak kunjung pulang dari menggembala. Maka, Qabil pun diutus untuk mencari putra keduanya itu.

“Malam ini aku akan benar-benar membunuhnya,” gumam Qabil dengan penuh dendam.

Saat ia bertemu dengan adiknya, dengan terus terang Qabil berujar,”Kurbanmu diterima, sedang punyaku tidak. Aku akan membunuhmu,”

Jawaban putra emas Adam itu mengejutkan. “Sungguh, jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”

Padahal, Habil tahu, andai melawan, ia akan menang dari kakaknya. Ia begitu perkasa. Tubuhnya tegap, berlengan besar dengan otot-otot kekar menggantung. Namun, tidak. Ia tidak mau membalas niat buruk saudaranya dengan perbuatan serupa. Daripada kematian, ia jauh lebih takut pada Sang Pencipta.

“Aku ingin kau mengurungkan niatmu. Karena dengan membunuhku, maka dosamu akan bertambah banyak. Kamu akan menjadi penghuni neraka, dan itulah balasan bagi orang yang zalim,” tak jeri, ia menasihati kakaknya.



Mendengar perkataan Habil, semakin geram sajalah Qabil dibuatnya. Syetan telah membisiki sanubarinya, mendorong Qabil melaksanakan maksud yang terpendam itu. Lalu, ia mengambil batu besar. Sekuat tenaga, dihantamkannya batu itu ke kepala Habil. Duakk! Duakk! Duakk! Demikian kerasnya, hingga kepala Habil pecah.

Demikianlah, pembunuhan pertama umat manusia itu dilakukan. Syahdan, Qabil telah menerima ganjaran langsung atas dosa yang ia perbuat. Kakinya diikat kuat dengan tali temali hingga mencapai paha. Seiring dengan perputarannya, wajah Qabil dihadapkan pada terik matahari.

*Disarikan dari kitab “Kisah Para Nabi” karya Imam Ibnu Katsir

(Aghniya/Alhikmah)

Membeli Hewan Qurban dengan Uang Hutang? Bolehkah?




Sejumlah masalah terkait kurban mengemuka di tengah masyarakat. Salah satunya, dalam perkara kurban dengan menggunakan uang hutang. Ahli fikih, Ahmad Sarwat, Lc., menjawab pertanyaan ini dalam bukunya Fikih Sembelihan.

Ia menuturkan, oara ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada sebagian ulama yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan. Di antara pihak yang membolehkan berqurban dengan uang hasil hutang adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At-Tsauri.

Sufyan al-Tsauri rahimahullah berkata, “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: “Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta qurban tersebut).” (QS. Al- Hajj: 36)



Sebagian ulama lain, menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Artinya, tidak dianjurkan berhutang demi sekedar melaksanakan penyembelihan hewan qurban yang hukumnya sunnah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berqurban.”

Bahkan, beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab, “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunasi hutang orang yang faqir, maka lebih utama melunasi hutang orang tersebut, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.”

Sejatinya, kata Ahmad Sarwatm pernyataan-pernyataan ulama tersebut tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang.

Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika berqurban adalah untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada qurban adalah untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi. []

Akhlak terhadap Hewan




Maka ketika kita dikagetkan oleh penilaian bahwa orang Indonesia, orang Islam memperlakukan hewan tidak  pada tempatnya, sesungguhnya tinggal kita kembali kepada bagaimana ajaran Islam mengajarkan ini.

Pembaca, Allah adalah sosok yang sangat lembut, sangat santun. Karenanya Allah sangat menghargai memuji kelembutan dan kesantunan. Kepada siapa kita harus berlaku lembut dan santun?  Apakah hanya kepada sesama manusia? Tentu saja tidak.

Kita manusia ditugaskan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ketika kita mengerjakan tugas sebagai rahmatanlil’alamiin, kita mengemban tugas, fungsi-fungsi keilahian.

Jika Allah Maha Lembut, jika Allah Maha Penyantun, maka kita juga di ajarkan untuk berlaku santun, bahkan kepada hewan.

Pembaca, kita pernah mendengar  hadits tentang seorang perempuan dikisahkan masuk neraka. Mengapa? Ia menyiksa, mengurung kucing peliharaannya sehingga tidak bisa mendapatkan makanan, sampai kucing itu mati kelaparan.



Kita juga tahu saat Rasulullah melarang orang-orang menjadikan hewan sebagai sasaran berlatih memanah. Di saat yan lain, Rasulullah juga melarang hewan yang akan disembelih untuk di aniaya dan diperlakukan dengan kasar.

Islam mengajarkan kesantunan bahkan ketika kita memperlakukan hewan yang akan disembelih. Sesuatu yang berbahagia, begitu luas ajaran Islam melingkupi berbagai segi-segi kehidupan.

Maka ketika kita dikagetkan oleh penilaian bahwa orang Indonesia, orang Islam memperlakukan hewan tidak  pada tempatnya, sesungguhnya tinggal kita kembali kepada bagaimana ajaran Islam mengajarkan ini.

Islam mengajarkan agar kita santun, penuh kelembutan bahkan kepada hewan. Rasulullah mengajarkan bagaimana beliau menjadi orang yang sangat sayang kepada kucing.

Rasul memberi nama kepada unta yang sangat berjasa dalam perjalanan sejarah hidup beliau.  Qashwa, adalah unta yang sangat luar biasa yang instingnya diikuti oleh Rasulullah.

Ketika Rasul berhijrah dari Mekkah ke Madinah, tunggangannya adalah Qashwa. Ketika Rasul melakukan perjalanan Futuh Mekkah, tunggangannya adalah Qashwa. Bahkan ketika Rasulullah melalui perjalanan yang sangat heroik, yang disebut dengan Perjanjian Hudaibiyah, Rasul pun menggunakan unta yang sama.

Kita diajarkan penuh kelembutan, penuh kesantunan. Bahkan ketika kita memperlakukan binatang yang akan kita disembelih,  dengan pisau yang sangat tajam, dengan cepat-cepat dan tidak menyakiti. Itulah syarat-syarat yang diberikan kepada mereka yang bahkan hendak memperlakukan hewan yang menjadi kurban di Hari Raya Idul Adha.



Hewan kurban diberikan perlakuan yang sangat baik dan mereka pun disembelih dengan cara yang baik sehingga mereka seakan-akan tidak merasakan kesakitan. Perlakukan penuh kelembutan yang di bumi maka kita akan mendapatkan perlakuan yang lemah lembut dari yang langit.

Bahagiakan penduduk bumi, kita akan dibahagiakan oleh penduduk langit. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang berjalan di muka bumi dengan penuh kelembutan, penuh kesantunan dan tidak ada rasa sombong, karena sombong menghindarkan kita untuk bisa masuk surga.

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nuur, 24 : 45). []

Apa Hukum Arisan Kurban?




Dalam buku Fiqih: Sembelihan, ahli fikih Ahmad Sarwat. Lc., MA menjawab pertanyaan tentang hukum arisan kurban yang marak di tengah masyarakat. Ia menyatakan:

“Prinsipnya, kalau sistem dan tata cara arisan itu halal, maka hukumnya pasti halal. Sebaliknya, bila sistem arisannya haram, karena mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat Islam, maka arisan qurban pun hukumnya haram juga.” katanya.

Untuk mengetahui arisan yang halal, kata Ahmad Sarwat prinsipnya semua anggota harus dapat giliran menang secara adil. Dan nilai yang diterima harus sama pada setiap pengocokannya. Sehingga pada akhirnya tidak ada anggota yang untung atau rugi secara finansial, karena uang mereka tidak bertambah dan tidak berkurang.  “Arisan menjadi haram nilai hadiah buat pemenang berubah-ubah pada tiap pengocokan.” tuturnya.



Pada pengocokan pertama, pemenang mendapatkan 30 ribu rupiah, maka masing-masing anggota diharuskan mengeluarkan uang 10 ribu rupiah. Lalu pada pengocokan kedua, aturan diganti dan pemenang mendapat 45 ribu rupiah, karena iuran arisannya dinaikkan menjadi 15 ribu rupiah. Dan pada pengocokan ketiga, disepakati bahwa uang buat pemenang ditetapkan hanya 24 ribu rupiah saja, sehingga masing-masing anggota cukup mengeluarkan uang sebesar 8 ribu.

Ia menuturkan, “Cara ini jelas haram hukumnya walaupun asasnya sama-sama ridha. Karena kalau kita kalkulasi secara total dari awal hingga akhir, ada pihak yang untung dan ada yang rugi. Selama tiga kali pengocokan, masing-masing anggota harus menyetorkan uang sebesar 10 ribu, ditambah 15 ribu dan 8 ribu, sama dengan 33 ribu,”

Uang yang diterima oleh masing-masing pemenang ternyata berbeda-beda tiap kali pengocokan. Pemenang yang mendapat giliran pertama mendapat 30 ribu, sedangkan pemenang giliran kedua mendapat 24 ribu. “Cara ini 100% sama persis dengan perjudian, dan hukumnya jelas haram.” ia menandaskan. []

Menembus Pelosok Berlumpur Hingga Sungai Berarus Deras, untuk Sebuah Amanah




Idul Adha 1438 H/2017 tinggal menghitung hari. Tim penyaluran Green Kurban (GK) Sinergi Foundation telah mulai memobilisasi hewan kurban ke polosok-pelosok Nusantara. Salah satunya, distribusi dilakukan di Aceh, tepatnya desa pedalaman  di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Di Aceh Tamiang, tim GK menyusuri tiga desa terpencil, yakni kampung Bengkelang di kecamatan Bandar Pusaka, kampung Sulum dan kampung Tanjung Gelumpang di kecamatan Sekrak. Sementara di Aceh Timur, mereka menyalurkan hewan kurban ke wilayah, yang di antaranya Gampong Pante Kera, Melidi, Tampur Bor, Ranto Naro, dan Gampong Rantau Panjang.

Sepriyanto, Ketua Yayasan Sinergi Foundation yang mengepalai langsung monitoring GK di Aceh menyatakan perjalanan mereka penuh dengan rintangan menghadang. Guna sampai di lokasi, tak hanya jalan darat yang berlumpur, arus sungai yang deras pun mereka arungi. Apalagi, dengan hujan yang terus menerus turun selama empat hari terakhir, membuat mereka menghabiskan 2,5 jam perjalanan dengan perahu boat.



Sempat, dengan medan yang sulit dan waktu yang tak singkat, sapi-sapi kurban berontak. Mereka melawan kala dituntun menuju perahu di penyeberangan Bengkelang.

Tak berhenti sampai di sana. Puncaknya, rintangan itu dihadang tim GK saat hendak melintasi batu raksasa yang dijuluki Batu Katak. Batu tersebut terletak di tengah sungai, dan membahayakan siapa saja yang melaluinya. Di titik ini, nyawa dipertaruhkan.

“Di Batu Katak, beberapa kali kecelakaan merenggut nyawa manusia. Salah satu yang dramatis, yaitu meninggalnya dua orang guru dari pulau Jawa, plus pengemudi perahu boat yang diterjang arus sungai yang demikian deras,” kata Sepriyanto, Rabu (30/8/2017). Kendati demikian, alhamdulillah, katanya, Batu Katak akhirnya berhasil dilalui.

Setelah naik boat selama 2,5 jam, barulah tim GK memulai pergerakan ke Gampong Ranto Naro kecamatan Simpang Jernih dengan berjalan kaki di jalan setapak area bekas hutan tanaman industri. Di jajaran bukit barisan ini, mereka berjalan sejauh 12 kilometer dengan kisaran waktu 4 jam.

Sepriyanto menerangkan, setiap titik distribusi memiliki tantangannya tersendiri. Namun segala rintangan yang ada itu, katanya, bisa dilalui dengan semangat membara yang dimiliki para relawan.

“Selain harus melewati jalan berlumpur, perjalanan harus dilanjutkan dengan  menggunakan boat dan ada pula yang harus menggunakan transportasi getek. Doakan kami, agar amanah kurban ini tersalurkan pada mereka yang membutuhkan,” pungkas Sepriyanto. []

Apa Kabar Kurban Di Kampung Mualaf Abun, Papua?




Bukan mudah menjadi seorang muslim di tanah Papua. Sebab masalah perbedaan keyakinan, tak jarang konflik sering terjadi. Seperti yang dialami Lukman Yenjauo, warga kampung Mualaf Abun, Kabupaten Sorong Papua.

Dahulu, Yenjauo adalah salah satu dari sekian ratus orang yang mempertahankan Islam tatkala saudara sekampungnya di Abun (kini Tambraw) ramai pindah agama. Ejekan, cacian, diskriminasi, intimidasi, ancaman, sampai pembunuhan gara-gara berbeda keyakinan masih sering terjadi, bahkan ia pernah diancam dengan sebilah golok dan senjata api agar keluar dari Islam.

Tak lama setelah itu, Yenjauo bersama sisa warga muslim Abun lainnya hijrah meninggalkan kampung halaman menuju sebuah kampung yang tidak ada namanya di Distrik Mariat, Sorong. Meninggalkan seluruh harta dan jabatan. Di kampung yang belum ada nama inilah Yenjauo muslim lainnya memulai babak baru kehidupannya.



Mereka kemudian menamai daerah tersebut dengan Kampung Mualaf Abun. Nama mualaf disematkan karena mereka diislamkan oleh para da’i dari keturunan kerajaan Tidore. Sedangkan Abun adalah marga asli mereka di Papua.

Sehari-hari warga Kampung Mualaf Abun ini bekerja di hutan, ada pula yang bekerja sebagai buruh kasar, penggali parit, buruh bangunan, penjaga sekolah. Kendati penghasilan tak menentu, dengan keyakinan kepada Allah Ta’ala, hidup mereka bahagia. Yang penting mereka tetap teguh dalam tauhid.

Keberadaan Green Kurban tahun lalu di daerah mereka menjadi pelipur lara, karena sungguh jarang mereka bisa menikmati daging kurban. Tapi tak hanya itu, ini juga menjadi syi’ar bagi mereka yang hampir jarang mendapat seruan dakwah. “Terima kasih Green Kurban!” kata Yenjauo.

Mari tunaikan ibadah kurban, dan galang kepedulian untuk mereka. Dengan bergabung di Green Kurban, insya Allah Anda berpartisipasi kurban untuk wilayah miskin, terpencil, wilayah konflik, rawan gizi, dan wilayah minus lainnya di negeri ini.

Klik: http://www.sinergifoundation.org/green-kurban/

Info lebih lanjut:
WA 081220667263
www.sinergifoundation.org

Bernazar Menyembelih Kurban, Bagaimana Hukumnya?




Jika bernazar untuk menyembelih kurban, apakah hukumnya berubah dari sunnah menjadi wajib ?

Jawab: Nazar adalah sebuah janji kepada Allah SWT yang apabila permintaannya dikabulkan Allah, maka dia kan melakukan salah satu bentuk ibadah sunnah yang kemudian menjadi wajib untuk dikerjakan. Nazar untuk menyembelih hewan udhiyah membuat hukumnya berubah dari sunnah menjadi wajib. Baik dengan menyebutkan hewannya yang sudah ditentukan, atau tanpa menyebutkan hewan tertentu.



Kalau seseorang punya kambing yang menyebutkan bahwa kambingnya akan disembelihnya sebagai udhiyahapabila permohonannya dikabulkan Allah, maka wajib atasnya untuk menyembelih kambing itu, dan tidak boleh diganti dengan kambing yang lain. Sedangkan kalau dia tidak menentukan kambing tertentu, hanya sekedar berjanji untuk menyembelih kambing udhiyah, maka boleh menyembelih kambing yang mana saja.

Disarikan dari “Fiqih: Sembelihan” karya Ahmad Sarwat. Lc., MA