Apa Hukum Arisan Kurban?




Dalam buku Fiqih: Sembelihan, ahli fikih Ahmad Sarwat. Lc., MA menjawab pertanyaan tentang hukum arisan kurban yang marak di tengah masyarakat. Ia menyatakan:

“Prinsipnya, kalau sistem dan tata cara arisan itu halal, maka hukumnya pasti halal. Sebaliknya, bila sistem arisannya haram, karena mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat Islam, maka arisan qurban pun hukumnya haram juga.” katanya.

Untuk mengetahui arisan yang halal, kata Ahmad Sarwat prinsipnya semua anggota harus dapat giliran menang secara adil. Dan nilai yang diterima harus sama pada setiap pengocokannya. Sehingga pada akhirnya tidak ada anggota yang untung atau rugi secara finansial, karena uang mereka tidak bertambah dan tidak berkurang.  “Arisan menjadi haram nilai hadiah buat pemenang berubah-ubah pada tiap pengocokan.” tuturnya.



Pada pengocokan pertama, pemenang mendapatkan 30 ribu rupiah, maka masing-masing anggota diharuskan mengeluarkan uang 10 ribu rupiah. Lalu pada pengocokan kedua, aturan diganti dan pemenang mendapat 45 ribu rupiah, karena iuran arisannya dinaikkan menjadi 15 ribu rupiah. Dan pada pengocokan ketiga, disepakati bahwa uang buat pemenang ditetapkan hanya 24 ribu rupiah saja, sehingga masing-masing anggota cukup mengeluarkan uang sebesar 8 ribu.

Ia menuturkan, “Cara ini jelas haram hukumnya walaupun asasnya sama-sama ridha. Karena kalau kita kalkulasi secara total dari awal hingga akhir, ada pihak yang untung dan ada yang rugi. Selama tiga kali pengocokan, masing-masing anggota harus menyetorkan uang sebesar 10 ribu, ditambah 15 ribu dan 8 ribu, sama dengan 33 ribu,”

Uang yang diterima oleh masing-masing pemenang ternyata berbeda-beda tiap kali pengocokan. Pemenang yang mendapat giliran pertama mendapat 30 ribu, sedangkan pemenang giliran kedua mendapat 24 ribu. “Cara ini 100% sama persis dengan perjudian, dan hukumnya jelas haram.” ia menandaskan. []

Menembus Pelosok Berlumpur Hingga Sungai Berarus Deras, untuk Sebuah Amanah




Idul Adha 1438 H/2017 tinggal menghitung hari. Tim penyaluran Green Kurban (GK) Sinergi Foundation telah mulai memobilisasi hewan kurban ke polosok-pelosok Nusantara. Salah satunya, distribusi dilakukan di Aceh, tepatnya desa pedalaman  di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Di Aceh Tamiang, tim GK menyusuri tiga desa terpencil, yakni kampung Bengkelang di kecamatan Bandar Pusaka, kampung Sulum dan kampung Tanjung Gelumpang di kecamatan Sekrak. Sementara di Aceh Timur, mereka menyalurkan hewan kurban ke wilayah, yang di antaranya Gampong Pante Kera, Melidi, Tampur Bor, Ranto Naro, dan Gampong Rantau Panjang.

Sepriyanto, Ketua Yayasan Sinergi Foundation yang mengepalai langsung monitoring GK di Aceh menyatakan perjalanan mereka penuh dengan rintangan menghadang. Guna sampai di lokasi, tak hanya jalan darat yang berlumpur, arus sungai yang deras pun mereka arungi. Apalagi, dengan hujan yang terus menerus turun selama empat hari terakhir, membuat mereka menghabiskan 2,5 jam perjalanan dengan perahu boat.



Sempat, dengan medan yang sulit dan waktu yang tak singkat, sapi-sapi kurban berontak. Mereka melawan kala dituntun menuju perahu di penyeberangan Bengkelang.

Tak berhenti sampai di sana. Puncaknya, rintangan itu dihadang tim GK saat hendak melintasi batu raksasa yang dijuluki Batu Katak. Batu tersebut terletak di tengah sungai, dan membahayakan siapa saja yang melaluinya. Di titik ini, nyawa dipertaruhkan.

“Di Batu Katak, beberapa kali kecelakaan merenggut nyawa manusia. Salah satu yang dramatis, yaitu meninggalnya dua orang guru dari pulau Jawa, plus pengemudi perahu boat yang diterjang arus sungai yang demikian deras,” kata Sepriyanto, Rabu (30/8/2017). Kendati demikian, alhamdulillah, katanya, Batu Katak akhirnya berhasil dilalui.

Setelah naik boat selama 2,5 jam, barulah tim GK memulai pergerakan ke Gampong Ranto Naro kecamatan Simpang Jernih dengan berjalan kaki di jalan setapak area bekas hutan tanaman industri. Di jajaran bukit barisan ini, mereka berjalan sejauh 12 kilometer dengan kisaran waktu 4 jam.

Sepriyanto menerangkan, setiap titik distribusi memiliki tantangannya tersendiri. Namun segala rintangan yang ada itu, katanya, bisa dilalui dengan semangat membara yang dimiliki para relawan.

“Selain harus melewati jalan berlumpur, perjalanan harus dilanjutkan dengan  menggunakan boat dan ada pula yang harus menggunakan transportasi getek. Doakan kami, agar amanah kurban ini tersalurkan pada mereka yang membutuhkan,” pungkas Sepriyanto. []